Yuk Kenalan dengan Maria Pratiwi, Harpist Asia Pertama Pemenang Great Hall London dari Indonesia

7

JAKARTA – Siapa yang sangka Indonesia punya ahli harpa yang namanya sudah mendunia. Apalagi, ia tidak jauh-jauh tinggal di luar negeri dan aktif pula di industri musik Tanah Air. Namanya adalah Maria Pratiwi.

Di Indonesia, Maria memang lebih dikenal sebagai guru dan pemain harpa. Namun masih ada segudang pencapaian yang berhasil ditorehnya, terutama di kancah internasional.

Bertempat di MNC News Center, Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat, Maria bercerita mengenai pencapaian fantastisnya di bidang musik kepada Okezone. Penasaran? Yuk, simak profil dan perjalanan singkat Maria berikut ini!

Minat belajar harpa sejak 10 tahun hingga jadi orang Asia pertama pemenang Great Hall London Concerto Competition

Minat Maria untuk belajar harpa sesungguhnya sudah ada sejak usia 10 tahun. Sayang, kesulitan mencari guru harpa membuatnya baru bisa mendalami alat musik itu saat berusia 18 tahun, di bawah asuhan Heidi Awuy. Sekira September 2009, tak lama setelah ia mulai belajar, Maria mendapatkan harpa pertamanya.

Minatnya yang besar terhadap harpa, membuat kemampuan Maria berkembang pesat. Ia pun mendapatkan sertifikat perolehan nilai tertinggi dari Associated Board of the Royal School of Music dari 2008 hingga 2011.

Sertifikat itu menjadi tiketnya untuk mendalami musik di salah satu universitas swasta di kawasan Tangerang, Banten. Sayang, jurusan yang ia pilih tak bersinggungan dengan harpa, sehingga ia kembali menunda belajar harpa hingga lulus kuliah.

Takdir mempertemukannya kembali dengan harpa saat ia diterima kuliah pascasarjana jurusan Harp Performance di sebuah perguruan tinggi musik di London, Inggris. Ia pun dibimbing langsung oleh harpist terkemuka, seperti Gabriella Dall’Olio, anggota dari organisasi penyusun kurikulum harpa dunia, Trinity Laban Conservatory of Music. Ketika itu, Maria sempat heran kenapa Gabriella mau menjadi gurunya.

“Diajari Gabriella Dall’Olio seperti dream come true. Dia mau menjadi guruku itu seperti ‘Hah masa sih? Enggak mungkin’. Ternyata dia orang yang super welcome dan memang jarang punya murid orang Asia,” papar Maria.

Maria diperkenalkan oleh Gabriella dengan tokoh-tokoh terkenal lain, di antaranya harpist kawakan Deborah Henson-Conant dan Elisabeth Fontan-Binoche. Ia mengaku kagum melihat penampilan kedua gurunya itu yang masih semangat mengajar harpa di usia senja.

“Aku lihat, nenek-nenek seperti mereka saja masih bisa mengangkat harpa sendiri. Waktu itu umur Elisabeth Fontan-Binoche sekitar 86 tahun dan mainnya masih keren banget. Kebetulan, aku berkesempatan belajar sama dia selama 1 bulan penuh. Ini membuatku semakin jatuh cinta pada harpa,” ucapnya.

Maria dapat dikatakan menggunakan kesempatannya belajar dengan baik. Beberapa kali tampil solo, memberi jalan untuknya bermain bersama China Philharmonic Orchestra dalam tur mereka di London, dan mengikuti The Great Hall London Concerto Competition, keduanya pada 2012. Maria tercatat sebagai orang Asia pertama yang memenangkan ajang tersebut.

Selain itu, Maria tercatat sebagai lulusan Indonesia pertama yang lulus dari jurusan Harp Performance dan satu-satunya orang Indonesia yang diterima sebagai murid Deborah Henson-Conant. Mafhum, Deborah disebut Maria sebagai salah satu harpist paling berpengaruh selama dirinya bermain harpa.

Aktif bermusik di Indonesia, kenalkan harpa dengan cover musik pop di YouTube

Pulang ke Tanah Air, Maria langsung menyibukkan diri dengan resital-resital solo maupun orchestra. Lentera Simfonia, Twilite Orchestra, dan National Symphony Orchestra adalah beberapa di antaranya. Tak jarang, ia mendapat posisi sebagai principal harpist untuk acara-acara eksklusif.

Resital-resital itu tentunya sudah mengorbitkan namanya di kalangan musisi klasik Tanah Air, namun Maria juga ingin memperkenalkan harpa ke berbagi kalangan masyarakay. Setidaknya ada tiga upaya yang Maria lakukan demi mencapai hal itu. Pertama, ia membuka kelas harpa di bawah pengajarannya langsung, dimulai sejak 2015.

Dari yang awalnya terkenal dari mulut ke mulut, kini Maria membuka akun Instagram @maria_pratiwi yang disambut positif masyarakat. Kini, ia mengaku, justru kewalahan memilih siapa yang layak menjadi muridnya. Minat siswa, ketersediaan waktu, kemampuan finansial, dan kepemilikan harpa menjadi kriteria Maria dalam memilih murid. Kini, dia sudah memiliki ensemble harpa berisikan 12 orang.

Kedua, ia berkarya sebagai artis. Selain mengoleksi album bertajuk ’The Serenity’, Maria fokus menggarap dua channel YouTube. Satu digunakannya untuk mengajar, lainnya untuk membuat cover sejumlah lagu populer. Karya terbarunya adalah cover lagu Despacito yang dipopulerkan oleh Luis Fonsi dan Daddy Yankee.

Menariknya, Maria coba menembus berbagai genre musik, mulai dari klasik, jazz, hingga karya kontemporer. Hal itu, menurut dia, masih sejalan dengan prinsipnya, yaitu tidak meninggalkan genre klasik yang sudah dipelajarinya. Maria mengaku cover musik yang dilakukannya tidak jauh beda dari YouTuber musik lainnya, seperti Lindsey Stirling dan The Piano Guys.

“Setelah 6 bulan kembali ke Indonesia, aku melihat genre paling populer tetap pop. Mau enggak mau, aku mengikuti trennya, agar tak ketinggalan. Tapi tetap saya tak mau melupakan apa yang udah dipelajari sebelumnya. Sayang dong, makanya aku memasukkam unsur klasik ke genre pop ini.”

Dia menambahkan, ”Seperti Lindsey Stirling sama The Piano Guys, aku juga melakukan crossover, yang mana klasik dikawinkan dengan musik pop, jazz, sampai EDM. Tujuannya, agar musik enggak hambar dan cuma gitu-gitu doang,” jelasnya.

Ketiga, ia menjadi penyalur produk-produk harpa dari luar negeri ke Indonesia. Fokusnya adalah untuk memperkenalkan bahwa harpa tidak harus mahal, dan bisa dimainkan sehari-hari layaknya gitar.

“Sebenernya model harpa itu ratusan. Kayak gitar, ada yang mahal ada yang murah. Cuma memang yang masukin harpa ke Indonesia masih jarang. Makanya aku memasukkan harpa ke Indonesia. Aku memilih yang affordable dan ukuran lebih kecil,” jelas Maria.

Harapan Maria, Indonesia lebih kenal harpa

Kembali ke Indonesia dinilai Maria sebagai sebuah culture shock. Hidup sekian lama di Eropa sempat membuatnya lupa bahwa masyarakat Indonesia belum banyak paham dan menyambut harpa dengan baik. Ia mengaku sempat kesulitan mencari panggung karena bingung siapa yang akan menonton aksi ciamiknya itu.

”Di Indonesia, mau mengadakan konser klasik aja kayaknya mikir. Sponsornya siapa? Terus undangannya dikasi ke siapa? Kadang dikasi undangan gratis aja enggak ada yang datang. Makanya waktu aku balik ke sini untuk membangun musik klasik itu agak susah,” ucap Maria.

Padahal, ia menilai musisi harpa dunia menyambut kehadiran Indonesia dengan sangat hangat. Pasalnya, belum banyak orang Asia yang berhasil bermain harpa di tingkat internasional. Kalaupun ada, mereka selalu berasal dari Jepang, Hong Kong, atau Singapura.

Baca selengkapnya wawancara Maria Pratiwi dengan Okezone dengan judul “Yuk Kenalan dengan Maria Pratiwi, Harpist Asia Pertama Pemenang Great Hall London dari Indonesia” hanya di Okezone.

Dewanto Kironoputro, Jurnalis · Kamis 21 September 2017 21:35 WIB