Dari Hobi Jadi Profesi

5
cerita dibalik kecintaan Maria Pratiwi terhadap alat musik Harpa | Dari hobi menjadi profesi

Maria menjadi harpist muda Indonesia yang berhasil mencapai sertifikat skor tertinggi dari Royal School of Music dari tahun 2008 sampai 2011. Selain itu Maria adalah orang Indonesia pertama yang mendapat gelar Master of Music in Harp Performance dari Goldsmiths University of London.

“Rasanya sangat tenang, jiwanya seperti berada di satu titik diluar imajinasi,” begitulah ungkap Maria Pratiwi, salah satu harpist terbaik yang Indonesia miliki ketika ditanya mengenai bagaimana rasanya bermain harpa. Mengaku tidak diturunkan bakat seni oleh orang tua, Maria sangat yakin akan pilihannya pada alat musik yang menurutnya memiliki bentuk dan suara yang sangat unik. Awalnya, perempuan berambut hitam lurus ini memang diperkenalkan dengan dunia seni oleh orang tua sedari kecil. Ia mendapat dukungan penuh dari kedua orang tua untuk belajar menari, bernyanyi, hingga belajar les privat piano dan flute.

Ia lalu mencoba alat musik harpa dan kemudian jatuh cinta, karena melihat bentuk alat musik yang “tidak biasa” tapi elegan, dan suaranya lembut menenangkan jiwa. Karena itulah ia lantas mendalami harpa. Hasilnya sangat membanggakan. Maria menjadi harpist muda Indonesia yang berhasil mencapai sertifikat skor tertinggi dari Royal School of Music dari tahun 2008 sampai 2011. Selain itu Maria adalah harpist Indonesia pertama yang mendapat gelar Master of Harp Music in Harp Performance dari Goldsmiths University of London, di bawah bimbingan Prof Gabriella d’all Olio.

Maria Pratiwi juga terpilih menjadi solois Goldsimths Simfonia, Gold Opera dan Film Orchestra, dan terpilih bermain Handel Concerto serta tampil bersama dengan China Philharmonic Orchestra di Cadogan Hall London, melalui jalur audisi menjelang kelulusan studi masternya.

“Saya ingin membawa nama Indonesia di dunia internasional, dan meskipun itu bukan acara yang sangat besar, namun kesempatan yang saya peroleh itu sangat berarti untuk proses pembentukan karakter dan kepercayaan diri dalam bermain musik harpa,” tutur Maria.

Minatnya dalam musik Jazz telah membawa Maria untuk belajar teknik jazz dengan alat musik harpa bersama Profesor Harp di Guildhall School of Music and Drama, Monika Stadler. Dia memulai belajar bermain harpa pertama kali di Indonesia dari seorang guru harpa, Heidi Awuy, sementara itu Maria akhirnya memperoleh sertifikat skor tertinggi dari Associated Board of the Royal School of Music dari tahun 2008 hingga 2011.

Maria mendapat beasiswa dari UPH Musik Conservatorie jurusan komposisi musik dengan Dr. Johannes Sebastian Nugroho dan Otto Sidharta untuk gelarnya sebagai Sarjana Musik. Dari tahun 2013, dia adalah satu-satunya pemain harpa Indonesia yang diterima sebagai mahasiswa Deborah Henson Conant pada Grammy-Nominated Electric Harp Virtuoso.

Mendapatkan inspirasi dari internet dan sosial media seperti youtube, Maria mengaransemen alunan indah yang ia hasilkan dari alat musik yang terbilang cukup unik ini. Hampir setiap hari ia menjelajahi dunia maya dan mencari cara bagaimana agar selalu bisa terus berkarya. Tak hanya itu saja, disela-sela waktu luangnya, ia menonton film, tak hanya menonton film, ia selalu memperhatikan musik dari film tersebut yang ia gunakan sebagai salah satu cara mendapatkan referensi dalam berkarya.

Musisi ini mengaku sangat menikmati waktu liburnya untuk pergi ke pantai, seperti Bali. “Saya selalu suka pergi ke pantai, walaupun panas, tapi rasanya rileks sekali,” ungkap wanita kelahiran Jakarta, 12 Mei 1987 yang juga ternyata memiliki hobi memasak ini.

Begitu besar cintanya akan musik khususnya alat musik harpa, Maria memperkenalan harpa dengan caranya sendiri, “Hampir setiap hari saya selalu bertemu dengan orang baru, saya juga memberikan edukasi kepada mereka sehingga mereka tahu akan indahnya harpa,” ungkapnya.

Kecintaannya dengan alat musik harpa rupanya telah membawanya memperoleh gelar yang belum tentu bisa diraih oleh orang lain. Ia telah bermain di beberapa orkestra di Indonesia dan London sebagai pemain harpa utama, membuat beberapa kolaborasi dengan berbagai band, dan menjadi solois di berbagai acara. Tak hanya itu saja, Maria juga menjadi distributor pertama dalam penjualan alat musik harpa di Indonesia. Rupanya ia sangat ingin sekali memperkenalkan pada bangsa Indonesia, dan memberikan kemudahan bagi siapa saja yang ingin belajar harpa dengan mendirikan sekolah yang ia beri nama Maria Pratiwi Harp Course. Dan untuk meramaikan dunia hiburan di Indonesia, Maria juga membuat “La Lumiere Entertainment”, yang menyediakan solois, kelompok, ruang, dan musisi orkestra.

Baca cerita selengkapnya kecintaan Maria Pratiwi terhadap alat musik Harpa hanya di Framed.

Image & words by : Framed